Berserah Diri kepada Allah


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz, di saat puncak haji, jamaah pasti berdesak-desakan. Apa yang sebaiknya dilakukan saat itu?

Gunawan, Sukabumi

Jawaban :

Memang, harus diakui, saat puncak haji seluruh jamaah pasti berdesak-desakan. Misalnya, saat tawaf ifadah, mabit di Mina atau Muzdalifah, atau ketika melontar jumrah. Kondisi demikian, bisa membawa jamaah pada situasi yang emosional. Tak sedikit yang akhirnya mengeluarkan perkataan yang tidak baik.

Untuk menghindari perasaan emosional sehingga bisa merusak ibadah, sebaiknya pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT. La hawla wa la quwwata illa billah. Ketentuan, takdir, dan kuasa Allah SWT amat besar dirasakan saat pelaksanaan haji. Karena, hanya dengan kepasrahan total kepada Allah semuanya akan berjalan lancar

Rasanya tidak ada satu urusan pun saat berhaji yang bisa di-handle 100 persen oleh tangan manusia. Di Tanah Suci, seluruh urusan harus diserahkan sepenuhnya kepada kuasa Allah Yang Mahaperkasa. Bahkan, jadwal penerbangan yang sudah disusun rapi pun terkadang mengalami keterlambatan. Maka, semuanya harus dikembalikan kepada Allah Yang Maha Bijaksana.

Kita manusia hanyalah mampu berusaha dan segala urusan pada akhirnya harus kita kembalikan kepada Sang Pencipta. Inilah konsep tawakal, berserah diri kepada Allah SWT dalam Islam. Sebuah konsep di mana bukan seorang hamba didoktrin untuk menjadi lemah dan malas, melainkan sebuah konsep yang menyadarkan seorang hamba untuk menambatkan potensinya pada energi Ilahi yang tiada batas. Manusia sebagai makhluk pada dasarnya memiliki keterbatasan dan kelemahan. Sedangkan, Dia SWT adalah Ash-Shamad yang berarti Tempat Bersandar bagi setiap makhluk.

Maka, akan menjadi indah pandangan hidup seorang hamba bila ia melibatkan Tuhannya dalam setiap urusan kehidupan. Perhatikan bagaimana seorang pemimpin dunia bernama Muhammad SAW melibatkan Tuhannya dalam setiap urusan.

“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi pegangan hidupku, perbaguslah urusan dunia yang menjadi tempat sandaran hidupku, perbaikilah urusan akhiratku yang menjadi tempat kembaliku, dan limpahkanlah kebaikan dalam hidupku, dan jadikan kematian sebagai tempatku beristirahat dari segala keburukan.” ( HR Muslim ).

Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW dalam setiap urusannya. Beliau SAW meminta kepada Allah SWT untuk menangani semua urusan hidup yang beliau  jalani. Hanyalah manusia sombong yang berkata, “Semua urusan bisa diatur!” Padahal, apa yang akan ia kerjakan besok pun ia sendiri belum tahu bagaimana hasilnya.

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui ( dengan pasti ) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( QS [31] : 34 ).

Karenanya, marilah kita perbanyak berserah diri kepada Allah SWT. Sebab, siapa yang bertawakkal kepada Allah, segala urusannya akan Allah permudah ■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H,  Republika, Kamis, 3 November 2011 /7 Dzulhijjah 1432

Gambar : http://www.spiritualsharing.net/

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s