Akikah atau Kurban?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada seorang teman bertanya, ia ragu apakah orang tuanya sudah mengakikahkannya atau belum. Untuk hari raya Idul Adha ini apakah ia harus mendahulukan akikah atau berkurban? Kata temannya, akikah itu tanggung jawab orang tuanya, jadi lebih baik ia berkurban saja. Mohon penjelasnnya, Ustadz.

Rahmani - Jakarta

Jawaban :

Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah menjalankan akikah untuk diri sendiri setelah dewasa jika belum diakikahkan pada waktu kecil. Sebagian ulama berpendapat, tidak disunahkan bagi seseorang untuk mengakikahkan dirinya sendiri ketika sudah dewasa karena kalau setelah dewasa itu tidak dinamakan akikah lagi dan akikah itu disunahkan untuk orang lain, yakni bapaknya.

Itu adalah pendapat Imam Syafii dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat, disunahkan bagi orang yang belum diakikahkan pada waktu kecil mengakikahkan dirinya sendiri pada saat ia telah dewasa. Pendapat ini disampaikan oleh ‘Atha`, Hasan al-Basri, Muhammad Bin Sirin, al-Qafal al-Syasi dari Mazhab Syafii dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Mereka berlandaskan pada hadis yang di riwayatkan Baihaqi dari Abdullah bin Muharrir dari Qatadah dari Anas bahwasanya Nabi Muhammad mengakikahkan dirinya sendiri setelah kenabian. Menurut para ulama hadis, ini adalah hadis dhaif karena adanya Abdullah bin Muharrir. Tapi, hadis ini juga diriwayatkan dari jalur lain yang membuat sebagian ulama menganggapnya hasan li ghairihi.

Kebanyakan ulama pada zaman ini lebih memilih pendapat kedua karena meskipun hadis yang menjadi landasan pendapat itu kurang kuat, dalil yang melarang juga tidak ada, dan banyak tabiin yang melakukannya, seperti Atha`, Hasan al-Basri, dan Muhammad bin Sirin. Adapun mengenai mana yang lebih didahulukan antara kurban dan akikah, kedua-duanya merupakan sunah muakadah. Jika saat ini Anda memiliki kemampuan melaksanakan kedua-duanya, maka itu lebih baik.

Tetapi, bila Anda tidak berkemampuan, bisa mengikuti pendapat ulama yang mengatakan boleh menyembelih dengan niat kurban dan akikah sekaligus. Ini adalah pendapat Hasan al-Basri, Muhammad bin Sirin, dan salah satu riwayat Imam Ahmad. Dalam hal ini mereka menganalogikan hal tersebut dengan seseorang yang shalat dua rakaat dengan dua niat, yaitu niat shalat sunah tahiyyatul masjid dan sunah rawatib. Wallahu a’lam bish shawab.■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 8 Oktober  2011 / 10 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Kurban and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s