Haji Wanita pada Masa Idah, Bolehkah?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bolehkah seorang wanita yang masih dalam masa idah melaksanakan ibadah haji?


Jawaban :

Idah adalah masa menunggu yang wajib dilalui oleh perempuan yang dicerai oleh suaminya, baik karena cerai hidup maupun cerai mati. Untuk wanita yang beridah disebabkan selain kematian suami, hukumnya sebagai berikut: Pertama, karena talak raj’i ( suami boleh merujuk ), status hukumnya adalah sebagai istri, ia tidak boleh melakukan safar kecuali seizin suami, dan suami tidak apa-apa memberikan izin kepadanya untuk menunaikan ibadah haji bersama mahramnya.

Kedua, karena talak ba’in ( talak selama-lamanya ), hukumnya sama, ia harus tinggal di rumah. Dan, boleh menunaikan ibadah haji apabila suami menyetujuinya karena suami masih mempunyai hak dalam masa idah itu.

Sedangkan untuk wanita masih dalam keadaan idah karena suaminya meninggal, ia tidak boleh keluar rumah atau melakukan perjalanan jauh untuk beribadah haji sebelum masa idahnya habis. Ia wajib menunggu di rumah, sebagaimana firman Allah SWT. “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu)  menangguhkan dirinya ( beridah ) empat bulan sepuluh hari. Kemudian, apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu ( para wali ) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” ( QS al-Baqarah [2] : 234 )

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat ( menghadapi ) idahnya ( yang wajar ) dan hitunglah waktu idah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka ( diizinkan ) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barang kali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.” ( QS al-Thalaq [65] : 1)

Pendapat itu diriwayatkan dari Umar dan Utsman serta diikuti oleh Said bin al-Musayyab, al-Qasim, Malik, Syafi’i dan ahl ra’yi. Ada sebagian ulama yang membolehkan perempuan yang dalam masa idah untuk keluar melaksanakan haji dan umrah dan untuk menginap di mana yang dia suka. Di antara yang membolehkan adalah Aisyah. Diriwayatkan dari Urwah bahwasanya Aisyah membawa saudarinya Ummi Kultsum ke Makkah untuk umrah ketika suaminya Thalhah bin Ubaidillah meninggal. Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: “Allah mengatakan bahwa perempuan itu menunggu selama 4 bulan 10 hari, dan tidak mengatakan bahwa dia harus menunggu di rumahnya, maka dia boleh menunggu di mana saja.” Wallahu alam bish shawab.■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 10 Oktober  2011 / 12 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s