Mustahik Zakat Fitrah


Oleh : KH Miftah Faridl

Berpijak pada Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 43 yang artinya : “Dirikan shalat dan tunaikanlah zakat … “. Di akhir Ramadhan ini Muslim seteleh selesai menjalankan shaum Ramadhan maka diwajibkan untuk mengeluarkan zakat.

Nah yang menjadi masalah bagi saya yaitu, kita telah mengetahui bahwa orang yang wajib menerima zakat itu tergolong dalam 8 golongan, dari mulai “fakir, miskin, amil…” Bagaimana penjabarannya di zaman sekarang ini dari ke 8 golongan itu jika dibanding pada zaman Rasulullah SAW, sehingga nanti dalam pelaksanaannya, umat Islam tidak salah lagi dalam menentukan mana yang tergolong mustahik dan mana yang muzaki.

Demikian permasalahan saya, terima kasih atas perhatiannya.

Abdul Mutolib, Bandung

Jawaban :

Zakat yang dilaksanakan setelah selesai ibadah puasa Ramadhan yang jumlahnya tiga sepertiga liter beras itu sisebut zakat fitrah ( zakaturra’si / zakat per kepala ).

Sasaran utamanya adalah fakir miskin, yaitu mereka yang tidak mempunyai kekayaan dan tidak mempunyai pencaharian, karena cacat, yatim dll, dan mereka yang mempunyai pencaharian tapi tidak cukup untuk kehidupannya sehari-hari.

Pada zaman Nabi SAW orang yang menerima zakat fitrah itu betul-betul tidak mempunyai apa-apa sama sekali kecuali pakaian yang dipakainya.

Untuk kondisi sekarang, kalau ada seseorang yang sudah punya rumah sederhana dengan peralatan rumah sederhana, tapi tidak mempunyai pencaharian karena sebab-sebab tertentu tadi, maka yang bersangkutan dapat menerima zakat fitrah. Insya Allah tidak akan melanggar ajaran.

Dalam praktek, memang kita sering dihadapkan dengan suatu sikap mental yang tidak terpuji yaitu selalu “ingin diberi” bukan semangat supaya “bisa memberi”.

Prinsipnya kita harus berusaha untuk memberikan zakat fitrah itu kepada mustahiknya yang tepat dan tepat waktunya ( jangan melebihi waktu shalat Iedul Fitri ). Kalau kemudian ternyata ada orang yang mustinya menjadi muzzaki tapi ia berpura-pura menjadi mustahik, mudah-mudahan Allah mengampuninya dan meluruskan hatinya, serta mengampuni dosa kita yang telah khilaf melaksanakan amanah-Nya. ■

Sumber : Miftah Faridl Menjawab, Pikiran Rakyat, Sabtu, 11 Februari 1995 / 11 Ramadhan 1415 H

Judul dari admin

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Fiqih, Miftah Faridl, Puasa, Ramadhan, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s