Perbedaan Zakat , Infak, dan Sedekah


Oleh : M Amin Suma

Apa pengertian dari zakat, infak, dan sedekah, serta apa perbedaan di antara ketiganya?

Edo, Jakarta Pusat

Jawaban:

Zakat berasal dari bentukan kata zaka yang berarti ‘suci, ‘baik’, ‘berkah’ / tumbuh, dan ‘berkembang’ ( Mu’jam Wasith, I:398 ). Menurut terminologi syariat ( istilah ), zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula ( Kifayatul Akhyar I: 1 / 2 ).  Kaitan antara makna secara bahasa dan istilah ini berkaitan erat sekali, yaitu bahwa setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang (QS at-Taubah : 103 dan ar-Rum : 39).

Adapun persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu, antara lain, sebagai berikut. Pertama, al-milk at-tam yang berarti harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau kemudian disimpan. Di luar itu seperti hasil korupsi, kolusi, suap, atau perbuatan tercela lainnya, tidak sah dan tidak diterima zakatnya. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT tidak akan menerima zakat atau sedekah dari harta yang ghulul ( didapatkan dengan cara yang batil ).

Kedua,  an-namaa adalah harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya, harta perdagangan, peternakan, pertanian, deposito, mudharabah, usaha bersama, obligasi, dan lain sebagainya.

Ketiga, telah mencapai nisab, harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya, untuk hasil pertanian telah mencapai jumlah 653 kg gabah, emas, atau perak telah senilai 85 gram, perdagangan telah mencapai nilai 85 gram emas, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dan sebagainya.

Keempat, telah melebihi kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan hidupnya.

Kelima, telah mencapai satu tahun ( haul ) untuk harta-harta tertentu, misalnya, perdagangan. Akan tetapi, untuk tanaman dikeluarkan zakatnya pada saat memanennya (lihat QS al-An’am : 141).

Infak berasal dari kata anfaqa yang berarti ‘mengeluarkan sesuatu ( harta  ) untuk kepentingan sesuatu. Termasuk ke dalam pengertian ini, infak yang dikeluarkan orang-orang kafir untuk kepentingan agamanya ( lihat QS al-Anfal : 36 ). Sedangkan menurut terminologi syariat, infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan / penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

Jika zakat ada nisabnya, infak tidak mengenal nisab. Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit ( QS Ali Imran : 134 ). Jika zakat harus diberikan kepada mustahik tertentu (delapan asnaf), maka infak boleh diberikan kepada siapa pun juga, misalnya, untuk kedua orang tua, anak yatim, dan sebagainya ( QS al-Baqarah : 215 ).

Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariat, pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas menyangkut hal yang bersifal nonmaterial. Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar,  Rasullullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, dan melakukan kegiatan amar makruf nahi mungkar adalah sedekah.

Sering kali kata-kata sedekah dipergunakan dalam Al-Quran, tetapi maksud sesungguhnya adalah zakat, misalnya, firman Allah dalam QS at-Taubah : 60 dan 103.

Yang perlu diperhatikan, jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan untuk berinfak atau bersedekah. Berinfak adalah ciri utama orang yang bertakwa ( QS al-Baqarah : 3 dan Ali-Imran : 134 ),  ciri mukmin yang sungguh-sungguh imannya ( QS al-Anfal : 3-4 ), ciri mukmin yang mengharapkan keuntungan abadi ( QS al-Faathir : 29 ). Berinfak akan melipatgandakan pahala di sisi Allah ( QS al-Baqarah : 262 ). Sebaliknya, tidak mau berinfak sama dengan menjatuhkan diri pada kerugian/kebinasaan ( QS al-Baqarah : 195 ).

Sumber : Konsultasi  Zakat, Republika, Sabtu,  30 Juli 2011 / 28 Sya’ban 1432 H

Judul Asli : Beda Zakat, Infak, dan Sedekah

ΩΩΩ


Entri Terkait :

1.  Makna Zakat, Infaq, dan Sadaqah

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in M. Amin Suma, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s