Pelaksanaan Puasa Sering Berbeda


Oleh : KH Ali Mustafa Yaqub

Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub

Kenapa setiap kali bulan suci Ramadhan tiba, seringkali terjadi perbedaan waktu pelaksanaan puasa, tidak berbarengan. Kenapa bisa demikian ? Apakah setiap aliran / mazhab punya pedoman masing-masing sehingga ada yang melaksanakan puasa lebih dulu daripada yang lain. Terima ksih.

Susanti, Jakarta

Jawaban :

Ada perbedaan yang dibenarkan menurut tuntunan Nabi, bila perbedaan itu terjadi di negeri yang berbeda. Pada masa para sahabat Rasul, pernah terjadi perbedaan memulai puasa antara Damaskus ( Syria ) dengan di Madinah. Syria mulai puasa hari Jumat, Madinah mulai puasa hari Sabtu. Dalam sebuah hadis sahih, disebutkan, Kuraib diamanati oleh tuannya pergi ke Damaskus. Ternyata orang Damaskus sudah berpuasa duluan daripada di Madinah. Setelah pulang, dia mengatakan kepada sahabat, apakah nanti Lebaran bisa mengikuti orang di Damaskus ?

Sahabat Rasul, Ibnu Abbas, mengatakan tidak. Perintah Nabi : orang di Damaskus melaksanakan puasa sesuai rukyat di Damaskus dan orang di Madinah juga berpuasa berdasarkan rukyat yang dilakukan di Madinah. Imam An Nawawi (kitab Syarah Muslim) menyatakan, setiap negeri memiliki rukyat masing-masing dan itu akan memungkinkan terjadinya perbedaan.

Perbedaan puasa dalam dua negeri berlainan dan jauh, itu dibenarkan oleh Nabi. Tapi kalau dalam satu kawasan, rukyatnya hanya satu. Di sinilah berlaku hadis yang mengatakan : Puasalah kamu karena melihat bulan dan berlebaranlah karena melihat bulan Syawal, dan berhajilah kamu karena melihat bulan Zulhijjah. Bila bulan tak terlihat karena faktor cuaca, maka genapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari.

Jadi , sesuai tuntunan Nabi ada dua opsi saja, yaitu pertama melihat bulan, dan kedua, menggenapkan menjadi 30 hari. Kalau orang-orang Islam yang tinggal di satu kawasan mengikuti sunah Nabi, tidak ada perbedaan.

Tetapi kemudian, ada orang yang memberikan penafsiran, misalnya melihat bulan dengan otak atau menggunakan sains. Tapi dari segi bahasa, ini lemah. Rukyat itu artinya melihat dengan mata. Kalau dengan otak / akal, itu artinya Ra’yu.

Hingga akhirnya, muncul empat opsi. Dua opsi jelas dari Nabi. Opsi ketiga, ra’yu wujud hilal ( keberadaan hilal ) , yakni jika hilal sudah keluar dari orbitnya, maka kita wajib puasa. Opsi keempat, rukyat yang dimungkinkan, yakni jika bulan sudah keluar dari ufuknya, di atas dua derajat, memungkinkan untuk dilihat. Jika ternyata mendung dan bulan tidak dapat terlihat, menurut pendapat ini, kita wajib puasa meski tidak melihat bulan. Itulah yang menimbulkan perbedaan penetapan awal Ramadhan.

Sumber : Konsultasi Ramadhan, Republika, Sabtu,  14 Agustus 2010 / 4 Ramadhan 1431 H

  • Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, Guru Besar Ilmu Hadis dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Foto : Majalah Hidayah

ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Peran Pemerintah Mengakomodasi Paham
About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Ali Mustafa Yaqub, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pelaksanaan Puasa Sering Berbeda

  1. M. Ali Burhanuddin says:

    Maka bertanggung jawablah kepada ummat yang telah membuat perbedaan dan kebingungan, setiap perbedaan pasti ada yang salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s