Anak Angkat dan Hak Waris


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita semua beragam nikmat, terutama nikmat iman dan Islam. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada ustadz dan kru rubrik konsultasi ini. Saya ingin bertanya kepada ustadz, ibu saya diangkat sebagai anak oleh seorang ibu ( saya sebut dia nenek ) pada usia kurang lebih tiga tahun. Setelah ibu berumur lima tahun, nenek meninggal dunia dan beliau tidak mempunyai anak kandung.


Setahu saya, nenek mempunyai satu kakak dan satu adik perempuan. Adik perempuan nenek sudah meninggal. Saat meninggal, nenek mempunyai rumah dengan luas sekitar 100 meter persegi, yang sekarang ditempati ibu saya. Terkait hal ini, bagaimana hak waris menurut pandangan Islam dan posisi ibu saya sebagai anak angkat, apakah mendapatkan bagian waris?

Kalau dalam hukum Islam anak angkat tidak dapat bagian, lantas bagaimana rumah yang ditempati ibu saya sekarang ini, apakah harus diserahkan kepada kerabat nenek dan kepada siapa? Demikian pertanyaan dari saya. Mohon kiranya ustadz memberikan jawaban. Terima kasih.

Hamba Allah

Jawaban :

Adopsi anak sudah dikenal sejak zaman jahiliah sebelum ada risalah Nabi Muhammad SAW. Dahulu anak angkat dinasabkan kepada ayah angkatnya dan boleh menerima waris. Istri anak angkat haram bagi ayah angkatnya. Secara umum, anak angkat layaknya anak kandung di dalam segala urusan.

Kemudian, Allah memerintahkan anak-anak angkat untuk dinasabkan kepada bapak mereka yang sebenarnya bila memang diketahui. Tapi, jika tidak diketahui siapa bapaknya yang asli, mereka dianggap sebagai saudara seagama. Bisa dilihat dalam surah al-Ahzab ayat 4-5.

Dengan demikian, Islam membatalkan tradisi pewarisan yang terjadi antara orang tua angkat dan anak angkat yang tidak mempunyai hubungan nasab sama sekali. Tetapi, mereka, anak-anak angkat itu, mendapatkan hak wasiat yang tidak lebih dari sepertiga bagian.

Pembatalan terhadap hukum angkat bukan berarti menghilangkan makna kemanusiaan serta hak manusia berupa persaudaraan, cinta kasih, hubungan sosial, hubungan kebajikan, dan semua hal berkaitan dengan semua perkara yang luhur atau mewasiatkan perbuatan baik.

Dalam kasus ini, ibu Anda hanya memperoleh hak wasiat sebesar sepertiga bagian dari harta yang ditinggalkan, yaitu rumah seluas 100 meter persegi. Adapun sisanya, yang disebut dengan harta warisan, diberikan kepada ahli warisnya yang masih hidup. Dalam kasus ini, ahli waris yang masih  hidup yaitu kakak almarhumah.

Jika kakak almarhumah laki-laki, ia mendapatkan semuanya ( ‘ashobah ). Dan jika perempuan, mendapatkan setengah bagian ditambah sisanya ( raddan ). Sedangkan ahli waris yang telah wafat terdahulu tidak mendapatkan bagian.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 4 April  2011 / 30 Rabiul Akhir 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s