Hukum Doa Bersama Lintas Agama


Oleh : Ust M Shiddiq Al Jawi

Doa bersama lintas agama pada momen-momen tertentu kini tampaknya mulai menjadi tren. Bagaimana sesungguhnya sikap kaum Muslim yang seharusnya dalam merespon aktivitas doa bersama dengan penganut agama-agama lain. Apakah hal itu dibolehkan dalam Islam?

Joko, Jagakarsa, Jakarta

Jawaban :

Aktivitas doa bersama lintas agama biasanya dilakukan oleh para pemeluk agama yang berbeda-beda dalam rangka mendoakan ataupun mengharapkan sesuatu. Mereka secara bergiliran bermunajat menurut keyakinan masing-masing. Contoh paling dekat doa bersama yang dilakukan di akhir tahun ( Masehi ) agar bangsa ini bisa melampaui krisis berkesinambungan, perpecahan,  kehancuran, dan lain-lain.

Sesungguhnya aktivitas doa yang dilakukan secara bersama-sama antara kaum Muslim dan penganut agama-agama lainnya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diharamkan secara mutlak. Alasannya sebagai berikut:

Setiap aktivitas ( amal perbuatan ) seorang Muslim wajib terikat dengan hukum-hukum Islam. Teladan praktis untuk itu ada pada amal perbuatan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman: Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah dia. Apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.( QS al-Hasyr [59] : 7 ).

Doa termasuk ibadah mahdlah yang terikat dengan tatacara yang khas yang telah ditentukan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Siapa pun tidak boleh menambah-nambah ataupun menguranginya, apa pun maksudnya. Aktivitas doa bersama lintas agama sama saja dengan menambah-nambah ( sesuatu yang baru ) yang sebelumnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam perkara ibadah ( doa ). Hal itu termasuk bid’ah. Padahal, Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kalian jangan mengada-adakan hal-hal yang baru. Sebab, sesungguhnya mengada-adakan hal-hal baru itu adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu adalah kesesatan. Setiap kesesatan ( akibatnya ) adalah neraka. ( HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah ).

Di samping itu aktivitas doa bersama lintas agama muncul dari peradaban Barat yang mengesahkan aktivitas sinkretisme (percampuran akidah maupun syariat berbagai agama) yang didasarkan pada paham kufur pluralisme.  Sebaliknya, Islam menolaknya. Sebab, antara yang hak dan yang batil serta antara keimanan dan kekufuran tidak dapat dipertemukan dan disatukan sampai kapan pun dan dengan alasan apa pun. ■

Sumber : Ustadz Menjawab, Media Umat, Edisi 29, 20 Shafar  – 4 Rabi’ul Awwal 1431 H / 5 – 18 Februari 2010

 ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Doa Agar Disukai
  2. Berdoa di Kamar Mandi
  3. Kenapa Doa Saya Tidak Dikabulkan
  4. Etika Berdoa
About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, M Shiddiq Al Jawi, Upacara Keagamaan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s