Makan Kepiting Tidak Haram


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Pak Kiyai, saya ingin sekali makan kepiting. Tapi saya masih ragu hukumnya, halal atau haram. Mohon penjelasannya. Syukran

Jawaban :

Allah SWT telah mewajibkan umat Islam untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib ( baik ). Berdasarkan Firman Allah SWT : “Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah [2] : 168).

Nah, berkaitan dengan halal tidaknya makan kepiting selama ini memang  banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat. Setidaknya jika dibagi, ada dua kelompok yang berpendapat tentang hukum makan kepiting. Pertama kelompok yang mengharamkan dan kedua kelompok yang menghalalkan.

Kelompok yang mengharamkan umumnya berangkat dari pendapat bahwa umat Islam diharamkan memakan hewan yang hidup di dua tempat, air dan darat. Misalnya: katak, penyu dan lainnya. Biasanya orang menyebutkan dengan istilah amphibi, atau dalam istilah fiqihnya disebut barma’i.

Keharaman hewan amphibi ini banyak dijumpai di berbagai kitab  fiqih, terutama dari kalangan mazhab As Syafi”i. Salah satunya adalah kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam Ar-Ramli. Di sana secara tegas disebutkan haramnya hewan yang hidup di dua alam. Namun sebenarnya kesimpulan bahwa hewan yang hidup di dua alam itu haram dimakan, juga masih menjadi ajang perbedaan pendapat. Hal itu disebabkan lantaran dalil-dalil yang digunakan oleh mereka yang mengharamkan hewan amphibi dianggap kurang kuat.

Sedangkan kelompok kedua berpendapat bahwa kepiting halal hukumnya. Kelompok ini menilai dalil-dalil tentang haramnya hewan amphibi kurang kuat. Apalagi kepiting juga dinilai bukan termasuk hewan amphibi. Sehingga kalau pun bisa diterima pendapat bahwa hewan yang hidup di darat dan di air itu haram, toh kepiting tidak termasuk di dalamnya.

Pendapat bahwa kepiting itu bukan hewan dua alam dikemukakan oleh banyak pakar di bidang perkepitingan. Umumnya mereka memastikan bahwa kepiting bukan hewan amfibi seperti katak. Katak bisa hidup di darat dan air karena bernapas dengan paru-paru dan kulit.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Dr. Sulistiono dalam makalah “Eko-Biologi Kepiting Bakau ( Scyllaspp )” dan penjelasannya tentang kepiting yang disampaikan pada Rapat Komisi Fatwa MUI pada hari Sabtu, 4 Rabi’ul Akhir 1423 H / 15 Juni 2002 M, menyimpulkan bahwa di alam ini terdapat 4 ( empat ) jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas, yakni: Scylla Serrata, Scylla Tranquebarrica, Scylla Olivacea, dan Scylla Pararnarnosain. Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan “kepiting”.

Selanjutnya disimpulkan juga bahwa (1) Kepiting adalah jenis binatang air, dengan alasan: bernafas dengan insang, berhabitat di air dan  tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air. (2) Kepiting ( termasuk keempat jenis di atas )  hanya ada yang : hidup di air tawar saja, hidup di air laut saja, dan hidup di air laut dan di air tawar. Tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam ( laut dan darat ).

Berdasarkan firman Allah SWT: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal ) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu ( menangkap ) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” ( QS. Al Maidah [5] : 96 )

Dan hadits Rasulullah Saw: “Air laut itu menyucikan dan halal bangkainya.” ( Menurut Imam Bukhari hadits ini Sahih, lihat Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq Bab Ath’imah )

Maka dapat disimpulkan bahwa kepiting adalah binatang yang halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Di Indonesia, Majelis  Ulama Indonesia ( MUI ) juga telah mengelurakan fatwa halalnya kepiting pada tanggal  4 Rabi’ul Akhir 1423 H/ 15 Juli 2002 lalu.

Wallahua’lam bi shawab.

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 106, 1 – 15 Rabiul Awwal 1432 H  / 4 – 18 Februari 2011 M

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :


About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Makan Kepiting Tidak Haram

  1. SaniAgung says:

    alhamdulillah. karna saya suka makan kepiting ;)

  2. kubujambi says:

    aq klu mkn gtl” ,kepiting,udang…mendingan mkn peyek teri ajalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s