Makna Zakat, Infaq, dan Sadaqah


Oleh : M Quraish Shihab

Izinkanlah saya menyampaikan permasalahan saya dan mengajukan pertanyaan berikut.

ZIS ( zakat, infak dan sedekah ) dalam Islam merupakan hal yang harus dilaksanakan. Di antara ketiga hal di atas, yang belum jelas bagi saya adalah soal infak. Apa hukumnya : sunnah atau wajib. Bila sunnah, apa bedanya dengan sedekah. Bila wajib, bagaimana ketentuannya, karena yang disebut zakat dapat bermacam-macam ( fitrah, perdagangan, profesi, dll ). Bila wajib, apa perbedaan zakat sengan infak ?

Demikianlah, dan terima kasih atas jawabannya.

Nina  Istanti ,
Jl. Candi Mendut B 273
Bekasi 17111

Jawaban :

ZIS adalah akronim dari zakat, infak dan sadaqah. Ketiga kata ini dikenal oleh bahasa Arab sebelum turunnya Al-Quran dengan makna-makna tertentu. Tetapi perlu digarisbawahi hakikat yang menyatakan bahwa “bahasa” adalah sesuatu “yang hidup”, sehingga kata-katanya mengalami perkembangan dalam makna-maknanya.

Al-Quran dan hadis tidak jarang menggunakan satu kata dengan makna “baru” yang sedikit banyak tidak dikenal sebelumnya oleh pengguna bahasa itu. Di sisi lain, pemakaian sehari-hari serta penggunaan istilah dalam berbagai bidang ilmu, melahirkan pula makna-makna baru yang juga sedikit banyak berbeda dengan makna yang digunakan Al-Quran dan hadis. Misalnya kata “ibadah”, “ulama”, “kafir” dan sebagimnya.

Sementara itu di kalangan para pakar, dikenal apa yang disebut pengertian kebahasaan, pengertian agama dan pengertian ‘urf ( sehari-hari ).

Kata “infak” terambil dari kata berbahasa Arab infaq yang menurut penggunaan bahasa berarti “berlalu, hilang, tidak ada lagi” dengan berbagai sebab : kematian, kepunahan, penjualan dan sebagainya.

Atas dasar ini, Al-Quran menggunakan kata infaq  dalam berbagai bentuknya – bukan hanya dalam harta benda, tetapi juga selainnya. Dari sini dapat dipahami mengapa ada ayat-ayat Al-Quran yang secara tegas menyebut kata “harta” setelah kata infaq. Misalnya QS al-Baqarah ayat 262. Selain itu ada juga ayat di mana Al-Quran tidak menggandengkan kata infaq  dengan kata “harta”, sehingga ia mencakup segala macam rezeki Allah yang diperoleh manusia. Mislanya antara lain QS al-Ra’d ayat 22 dan al-Furqan ayat 67.

“Infak” digunakan bukan hanya menyangkut sesuatu yang wajib, tetapi mencakup segala macam pengeluaran / nafkah. Bahkan, kata itu digunakan untuk pengeluaran yang tidak ikhlas sekalipun. Firman Allah dalam QS al-Baqarah (2) : 262 dan 265 serta QS al-Anfal (8) : 36 dan al-Tawbah (9) : 54 merupakan sebagian ayat yang dapat menjadi contoh keterangan di atas.

Dari sini dapat dikatakan bahwa kata “infak” mencakup segala macam pengeluaran (nafkah) yang dikeluarkan seseorang, baik wajib maupun sunnah, untuk dirinya, keluarga, atau pun orang lain, ikhlas atau tidak. Dan dengan demikian, zakat dan sedekah termasuk dalam kategori “infak”.

“Zakat” dari segi bahasa, berarti “penyucian dan atau pengembangan”. Pengeluaran harta, bila dilakukan dengan keikhlasan dan sesuai dengan tuntunan agama, dapat membawa kepada penyucian harta dan jiwa yang mengeluarkannya serta mengembangkannya. Al-Quran dan hadis seringkali menggunakan kata ini – dalam arti, pengeluaran kadar tertentu dari harta benda yang sifatnya wajib, dan setelah memenuhi syarat-syarat tertentu. Karena, pengeluaran tersebut harus disertai dengan kesungguhan dan keikhlasan.

Kata “sadaqah” terambil dari akar kata yang berarti “kesungguhan dan kebenaran”. Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak lima kali dalam bentuk tunggal dan tujuh kali dalam bentuk jamak –- kesemuanya dalam konteks pengeluaran harta benda secara ikhlas (bandingkan dengan “infak”).

Tetapi kata “sadaqah” tidak hanya digunakan untuk yang sunnah / anjuran, tetapi juga untuk yang wajib. QS al-Tawbah (9) : 103, yang memerintahkan Nabi SAW mengambil zakat harta dari mereka yang memenuhi syarat-syarat, serta ayat 60, yang berbicara tentang mereka yang berhak menerima zakat, menggunakan kata “sadaqah” dalam arti zakat wajib.

Dalam pemakaian sehari-hari, kata “zakat” digunakan khusus untuk pengeluaran harta yang sifatnya wajib ( fitrah, maal, pertanian, perdagangan dan sebagainya ). Sedang “sadaqah” untuk pengeluaran harta yang sifatnya sunnah. Sementara itu, “infak” mencakup segala macam pengeluaran: harta atau bukan, wajib atau tidak, ikhlas atau pamrih.

Demikianlah jawaban atas pertanyaan Anda. ■

Sumber : Dr. M. Quraish Shihab Menjawab ,  Dialog Jumat, Republika, Jumat, 7 April 1995 /  7 Dzulqaidah 1415

Gambar :
Zakat        — http://usmanrastgar.blogspot.com
Infaq         — http://infaqforlife.org
Sadaqah  — http://www.owhsomuslim.com                                                                                                                                              –

ΩΩΩ

Entri Terkait :

1.  Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in M.Quraish Shihab, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s