Dasar-dasar Penerapan Zakat Profesi


Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Mengenai zakat profesi , agaknya ulama di Indonesia belum sepaham. Apa dasar penerapan zakat profesi ? Apakah zaman Nabi dan para sahabat zakat jenis ini ada ? Apa hubungannya dengan era sekarang ?

M Taufik, Jakarta Selatan

Jawaban :

Sesungguhnya perbedaan pendapat itu terjadi hanya dalam istilah saja, apakah dengan zakat profesi ataukah masuk pada zakat perdagangan , emas-perak, atau masuk kategori yang lain, seperti pertanian.

Sedangkan substansinya sama sekali tidak ada perbedaan bahwa setiap harta yang didapatkan dengan cara yang halal dan memenuhi persyaratan berzakat, jelas harus dikeluarkan zakatnya. Hal ini didasarkan pada nash-nash yang bersifat umum, yang menyatakan bahwa pada harta kita ada hak orang lain ( perhatikan QS 51 : 19 ) bahwa pada setiap harta yang kita miliki harus diambil zakatnya, karena akan membersihkan dan menyucikan ( perhatikan QS 9 : 103 ) dan bahwa pada setiap hasil usaha yang baik harus dikeluarkan zakatnya ( perhatikan QS 2 : 267 ).

Para ulama tafsir menyatakan bahwa dengan nash-nash umum ini syariat Islam memberikan peluang setiap harta yang memenuhi syarat zakat harus dikeluarkan zakatnya, walaupun di zaman Nabi Muhammad saw belum ada contoh konkret.

Kita mengetahui bahwa perkembangan ekonomi berjalan begitu cepat dengan variasi yang sangat kompleks. Perdagangan, misalnya, sekarang berkembang pada perdagangan saham, obligasi, dan surat-surat berharga, perdagangan mata uang, dan lain sebagainya.

Demikian juga peternakan, banyak peternakan yang belum ada contohnya di zaman Nabi dan para sahabat, seperti peternakan ayam, itik, dan lain-lain. Di zaman Nabi, peternakan hanya ada tiga jenis yang terkena kewajiban zakat, yaitu unta, sapi, dan domba / kambing.

Semua harta tersebut, jelas terkena kewajiban zakat, dengan cara menganalogikan pada salah satu jenis zakat yang sudah diuraikan secara rinci dalam Al-Quran dan Hadits, yaitu pertanian, perdagangan, emas-perak, hewan ternak, barang tambang, dan harta temuan (rikaz).

Penulis berpendapat bahwa zakat profesi dari sudut nisab dan waktu mengeluarkan (misalnya sebulan sekali) dianalogikan pada zakat pertanian. Kadarnya pada zakat emas-perak atau zakat perdagangan yaitu sebesar 2,5 persen. Qiyas semacam ini dalam Ilmu Ushul-Fiqh disebut Qiyas-Syabah ( Al-ihkaam fi Ushul Ahkaam, jilid III hal. 423 ).

Sementara itu, para ulama peserta Muktamar Internasional Pertama tentang Zakat di Kuwait ( Rajab 1405 H / April 1984 ) telah sepakat tentang wajibnya zakat profesi, apabila telah mencapai nisab, meskipun mereka berbeda pendapat dalam cara mengeluarkannya.

Selain itu, dalam Pasal 11 Ayat 2 Bab IV Undang-Undang No. 38/1999 Tentang Pengelolaan Zakat dikemukakan bahwa salah satu obyek zakat adalah pendapatan dan jasa. ■

Sumber : Konsultasi Zakat, Republika, Selasa, 4 November 2003  / 9 Ramadhan 1424

Judul Asli :  Zakat Profesi
Gambar     : http://bmhmalang.wordpress.com

ΩΩΩ

 Entri Terkait :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Didin Hafidhuddin, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s