Apakah Tahlil Sesuai Sunah Rasul?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apakah menyelenggarakan majelis tahlil di rumah pada tiga malam berturut-turut dan pada hari ketujuh untuk mendoakan kerabat yang baru meninggal dunia sesuai dengan sunah Rasulullah? Terima kasih atas jawabannya.

Imanuddin Hasan, Jakarta

Jawaban :

Kata ‘takziyah’ merupakan bentuk mashdar ( kata benda turunan ) dari kata kerja ‘aza. Maknanya sama dengan al-aza’u, yaitu sabar menghadapi musibah kehilangan. Bertakziyah kepada ahlul mayyit ( keluarga yang ditinggal mati ) maksudnya ialah menghibur mereka supaya bisa bersabar dan sekaligus mendoakannya.

Kata ‘tahlil’ asal artinya adalah mengucapkan lafal kalimat thayibah ‘laa ilaaha illallah’. Dalam kebudayaan Muslim Indonesia, ‘tahlil’ kemudian mengalami perkembangan menjadi ‘tahlilan’-makna yang berkonotasi ritual / upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal. Biasanya, tahlilan dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, tahun pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1.000.

Takziyah adalah perkara yang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Tentang hal ini, Abdullah bin Amr bin al-Ash menceritakan, pada suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah RA: “Wahai Fathimah, apa yang membuatmu keluar rumah?” Fathimah menjawab, “Aku bertakziyah kepada keluarga yang ditinggal mati ini.” ( Hadis Riwayat Abu Dawud 3/192 ).

Ijmak ( kesepakatan ) para ulama ( jumhur ) bahwa hukum takziyah adalah sunah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa bertakziyah kepada orang yang tertimpa musibah, baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.” ( Hadis Riwayat Tirmidzi 2/268 ).

Batas waktu bertakziyah adalah tiga hari, walau batasan ini tidak bersifat mutlak. Mayoritas jumhur ulama menyatakan makruh takziyah melebihi tiga hari ( Hasyiah Radd al-Mukhtar 1/604, al-Majmu 5/306, al-Inshaf 2/564, Kasysyaf al-Qina 2/160 ). Sabda Rasulullah: “Tidaklah dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali berkabung karena ( ditinggal mati ) suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari.” ( Hadis Riwayat Bukhari 2/78, Muslim 4/202 ).

Berdasarkan hadis tersebut di atas dan kesepakatan / ijmak jumhur ulama, bertakziyah hari ketujuh dimakruhkan. Karena setelah tiga hari, biasanya orang yang ditinggal mati bisa kembali tenang. Maka, tidak perlu lagi untuk dibangkitkan kesedihannya dengan dilayat.

Kendati begitu, jumhur ulama membuat pengecualian, yaitu apabila orang yang hendak melayatnya atau orang yang hendak dilayatnya ( keluarga yang ditinggal mati ) tidak ada dalam jangka waktu yang tiga hari tersebut, silakan melayat / takziyah pada hari yang keberapa pun.

Wallahu a’lam bish shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 31 Januari 2011 / 25 Shafar 1432

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s